Islam  

Dongeng Ashabul Kahfi Lengkap, Dongeng Para Perjaka Beriman

Dalam surah Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga dongeng pada kala kemudian, yaitu cerita Ashabul Kahfi, cerita konferensi nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta cerita Zulkarnain (Dzulqarnain).

Ashabul Kahfi ialah dongeng para pemuda beriman penghuni gua, yang dikisahkan secara global.

 Allah SWT menceritakan tiga kisah pada masa lalu Kisah Ashabul Kahfi Lengkap, Kisah Para Pemuda Beriman


Dalam sebuah informasi disebutkan, bahwa mereka memeluk agama Nabi Isa bin Maryam. Akan namun, al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah merajihkan, bahwa pemuda-perjaka itu hidup sebelum pertumbuhan millah Nashraniyah.

Seandainya mereka memeluk agama Nashrani, pasti para pendeta Yahudi tidak memiliki data perihal mereka. Sedangkan kejadian ashabul kahfi merupakan tema yang dikemukakan oleh Yahudi kepada kaum Quraisy untuk “menguji” kebenaran kenabian Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain pertanyaan tentang Dzul-Qarnain dan roh. Ini menawarkan bahwa insiden tersebut telah terbukukan dalam kitab-kitab mahir kitab, dan terjadi sebelum kedatangan agama Nashrani. Wallahu a’lam.

Al-Kahfi artinya sebuah gua di gunung dan menjadi tempat pelarian para cowok tersebut. Allah SWT berfirman:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا


(Ingatlah) tatkala cowok-perjaka itu mencari kawasan berlindung ke dalam gua, kemudian mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat terhadap kami dari segi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam problem kami (ini)”.
[Al-Kahfi 18:10]

Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mereka yaitu para pemuda yang lari untuk menyelamatkan keimanan mereka dari kaum mereka yang telah terjerat oleh kesyirikan dan pengingkaran terhadap hari kebangkitan, semoga fitnah itu tidak menimpa mereka. Mereka mengungsi ke sebuah gua yang berada di gunung.

Ketika memasuki gua tersebut, mereka berdoa kepada Allah SWT memohon rahmat dan belas-kasih-Nya. Dikatakan oleh Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah, bahwa permintaan mereka tersebut ialah doa yang agung dan mencakup seluruh kebaikan.

Dari doa para pemuda itu, terdapat satu segi yang ditekankan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah, yaitu mereka telah menggabungkan atau memadukan antara perjuangan yakni lari dari fitnah dengan menuju ke sebuah kawasan yang mampu menjadi persembunyian, (dipadukan) dengan ketundukan dan undangan terhadap Allah SWT supaya dimudahkan urusannya, dan tidak menyandarkan problem-persoalan terhadap diri mereka sendiri dan kepada sesama makhluk lainnya.

Tentang jadi diri para cowok tersebut, Allah SWT berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Sesungguhnya mereka adalah cowok-pemuda yang beriman terhadap Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka isyarat . [Al-Kahfi 18:13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menginformasikan, mereka ialah sekumpulan pemuda yang menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya dibandingkan dengan generasi tua dari golongan mereka yang justru menentang dan bergelimang dengan agama yang batil.

Para perjaka tersebut hanya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak seperti kaum mereka. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyukuri keimanan mereka, dan lalu menambahkan hidayah atas diri mereka. Maksudnya, disebabkan hidayah kepada keimanan, maka Allah Azza wa Jalla menambahkan isyarat terhadap mereka, yakni berbentukilmu yang berfaedah dan amal shalih.

Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya “Dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah menerima petunjuk”. [Maryam 19:76].

Bertolak dari penegasan Allah Azza wa Jalla di atas bahwa mereka merupakan sekumpulan perjaka yang beriman, suatu kesimpulan menawan dikemukakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, beliau rahimahullah menyampaikan, “Oleh karena itu, pada umumnya orang yang menyambut dakwah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya berasal dari kalangan para perjaka. Sedangkan para orang tua dari kaum Quraisy, pada umumnya masih memegangi agama mereka, tidak memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allah Azza wa Jalla mengabarkan, bahwa mereka itu yaitu para cowok.”

Allah SWT berfirman:

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka bangkit, kemudian mereka berkata, “Rabb kami ialah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru yang kuasa selain Dia, bekerjsama kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi 18:14]

Saat menjelaskan maksud ayat ini, al-Imam ath-Thabari rahimahullah menyatakan, “Dan Kami (Allah) mengilhamkan ketekunan terhadap mereka dan mengokohkan hati mereka dengan cahaya keimanan, sampai jiwa mereka berlepas diri dari sebelumnya, yaitu kebiasaan hidup yang mengasyikkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan atas mereka ketabahan dan kekuatan untuk bersabar, sehingga mereka berani memberikan di hadapan orang-orang kafir, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru dewa selain Dia, bantu-membantu kami jika demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.

Kemantapan dan ketabahan hati bagi mereka sangat diperlukan. Karena, seluruh masyarakatmemusuhi mereka, sedangkan usia mereka pada waktu itu masih muda, yang bisa saja dipengaruhi oleh orang bau tanah. Akan namun Allah Azza wa Jalla telah meneguhkan hati mereka. Demikian berdasarkan tinjauan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah.

Dalam pernyataan itu, para cowok tersebut sudah menggabungkan antara ikrar kepada tauhid rububiyyah dengan tauhid uluhiyyah dan konsisten dengannya, disertai dengan penjelasan bahwa Allah-lah Dzat yang Haq, dan selain-Nya ialah kebatilan. Ini menawarkan, mereka sungguh-sungguh mengenal Rabb dan adanya suplemen hidayah pada mereka.

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا


Kaum kami ini sudah menimbulkan selain Dia selaku tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terperinci (ihwal iman mereka). Siapakah yang lebih zhalim dibandingkan dengan orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah.
[Al-Kahfi 18:15]

Para cowok itu ingin memberikan alasan, mengapa mereka mengasingkan diri dari kaumnya. Kata mereka: “Orang-orang menjadikan sesembahan selain Allah, menyembah selain Allah. (Mengapa) mereka tidak pertanda bahwa sesembahan itu benar, dan menunjukkan aspek yang menjadi penyebab mereka menyembahnya?”

Jadi, ada dua permintaan pada kaum mereka. Yaitu:
(1) meminta pembuktian bahwa sesembahan mereka yakni ilah (sesembahan yang haq),
(2) meminta pembuktikan, bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah benar. Dan dua hal ini, mustahil dapat dibuktikan oleh orang-orang tersebut. Karena mereka tidak bisa membantah argumentasi para perjaka tersebut, maka kekerasan fisik akan menjadi langkah mereka selajutnya.

Dalam keadaan demikian, jika muncul fitnah yang mengancam agama seseorang, maka disyariatkan bagi seseorang untuk menyingkirkan diri dari khalayak demi keselamatan agamanya. Itulah yang dikerjakan oleh para cowok tadi, sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, pasti Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menawarkan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [Al-Kahfi 18:16]

Sebagian pemuda berkata terhadap lainnya, “Jika kalian sukses mengasingkan diri dari kaum kalian dengan jasad-jasad dan agama, maka tidak tersisa (perilaku) kecuali menyelamatkan diri dari kejelekan mereka dan menempuh langkah-langkah yang dapat mewujudkannya. Lantaran para cowok tersebut tidak mempunyai kekuatan untuk memerangi kaumnya, dan mustahil pula mereka tinggal bareng di tengah kaumnya dengan doktrin yang berlainan”. Sehingga cara yang mereka tempuh adalah berlindung di dalam gua dengan impian mampu mereguk rahmat dan kemudahan dari Allah Azza wa Jalla .

Tidaklah disangkal, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mencurahkan sebagian rahmat-Nya dan memudahkan persoalan mereka dengan petunjuk yang lurus dalam persoalan mereka. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama dan fisik mereka, serta membuatnya termasuk gejala kekuasaan-Nya di hadapan makhluk. Bahkan tempat untuk tidur mereka, berada dalam pemeliharaan yang tinggi. Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, cenderung dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu yaitu sebagian dari gejala (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi isyarat oleh Allah, maka dialah yang menerima petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang mampu memberi petunjuk kepadanya. [Al-Al-Kahfi 18:17]

Mereka berada dalam tempat yang luas dari gua itu. Keadaan demikian, semoga hawa dan arus udara tentang mereka, dan kandungan udara yang buruk mampu keluar.

Peristiwa tersebut termasuk tanda kebesaran Allah Azza wa Jalla. Para perjaka tersebut mendapat tutorial Allah Azza wa Jalla untuk menuju gua tersebut, dan Allah menimbulkan mereka tetap hidup, sinar matahari dan angin mengenai mereka, sehingga fisik mereka tetap tersadar.

Di akhir ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan bahwa Dia-lah yang memberi petunjuk terhadap para cowok itu menuju hidayah di tengah kaum mereka. Siapa saja yang dianugerahi hidayah, sangat beliau telah meraih isyarat . Dan barang siapa disesatkan, maka tidak ada seorang pun yang sanggup meluruskannya.

Dalam dongeng ini tersirat suatu perayaan, bahwa kita dilarang meminta hidayah kecuali cuma terhadap Allah. Begitu pula kita tidak perlu tidak yakin ketika menyaksikan ada orang yang kehilangan arah. Karena kesesatan seseorang itu berada di tangan Allah Azza wa Jalla . Kita mengimani takdir, tidak murka karena melihat kesesatan yang terjadi dari Allah Azza wa Jalla. Kewajiban kita, mengarahkan mereka yang telah sesat.

Allah SWT berfirman:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا


Dan kau menerka mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di wajah pintu gua. Dan kalau kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
[Al-Al-Kahfi 18:18].

Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah mengutip keterangan para Ulama tafsir, dia rahimahullah menyampaikan: “Hal itu alasannya mata mereka tetap terbuka semoga tidak rusak, sehingga orang yang menyaksikan, menyangka mereka terjaga padahal sedang tidur. Ini juga merupakan pemeliharaan Allah kepada tubuh-badan mereka. Karena umumnya goresan bumi mampu menggerogoti tubuh yang bersinggungan dengannya. Di antara ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala , Dia membolak-balikkan badan mereka ke kanan dan ke kiri, sehingga tidak menyebabkan bumi merusak tubuh mereka, walaupun Allah Maha Kuasa mempertahankan tubuh mereka tanpa perlu membolak-balikannya. Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana. Dia ingin memberlakukan sunnah-Nya di alam semesta dan mengaitkan faktor-faktor sebab dan akhir.

Anjing yang menyertai ashabul kahfi, pun tertidur mirip mereka pada waktu berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di wajah pintu gua.

Adapun pengamanan mereka dari kalangan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan perasaan takut yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tebarkan. Seandainya ada orang melihat mereka, niscaya hatinya akan penuhdengan rasa takut dan lari tunggang langgang.

Inilah faktor yang menyebabkan mereka mampu tinggal usang, dan tidak ada seorang pun yang sukses melacak mereka, padahal keberadaannya dari kota tersebut sangat erat sekali. Dalil yang memperlihatkan dekatnya kawasan mereka, adalah tatkala mereka terbangun, dan salah seorang mengutus temannya biar berbelanja masakan di kota, sedangkan yang lain menunggu kedatangannya. Ini menawarkan betapa erat gua yang mereka tempati dari kota.

Waktu Lama Mereka Tertidur

Ketika Allah Azza wa Jalla membangunkan mereka dari tidur lelap, mereka saling mengajukan pertanyaan dan berselisih tentang sudah berapa lamakah mereka tertidur dalam gua tersebut. Mereka mengira bahwa mereka gres menghabiskan sehari atau setengah hari saja, alasannya adalah Allah membangunkan ash-habul kahfi dari tidur panjang mereka, dalam kondisi fisik, rambut dan kulit yang sehat mirip kondisi semula, tanpa mengalami pergeseran sedikit pun.

Padahal mereka sudah melalui ratusan tahun, selaku firman-Nya:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا


Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
[Al-Kahfi 18:25]

Imam ath-Thabari rahimahullah menyebutkan tujuan mereka dibangunkan yaitu semoga mereka mengenali betapa agung kekuasaan Allah, keajaiban tindakan-Nya atas makhluk ciptaan-Nya, pembelaan-Nya terhadap para wali-Nya, dan biar mereka semakin mengenali secara terperinci kondisi mereka, yakni keberdaan mereka yang betul-betul berlepas diri dari peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah cuma terhadap Allah semata.

Setelah dibangkitkan dari tidur panjang, mereka mendelegasikan salah seorang diantara mereka untuk berbelanja kuliner yang mereka butuhkan dan tidak lupa mereka berpesan kepada sahabat yang diutusnya untuk berlaku etika supaya tidak memancing kecurigaan kaumnya.

Allah SWT berfirman.

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (insan) dengan mereka, biar manusia itu mengenali, bahwa kesepakatan Allah itu benar, dan bahwa kehadiran hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih wacana permasalahan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui ihwal mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan suatu rumah peribadatan di atasnya”. [Al-Kahfi 18:21].

Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan wacana ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan jikalau Dia berkehendak menunjukkan keadaan ashabul-kahfi kepada khalayak di kurun itu.

Kejadian itu wallahu a’lam sesudah mereka tersadar, dan lalu mewakilkan salah seorang di antara mereka untuk membeli masakan. Mereka memerintahkan temannya agar menyamar dan merahasiakan (masalah mereka).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak kepada satu insiden yang berisi kemaslahatan bagi orang-orang dan komplemen pahala bagi para perjaka itu. Yaitu, ketika orang-orang menyaksikan salah satu tanda kebesaran Allah pada mereka (ash-habul-kahfi) dengan mata mereka sendiri. Sehingga mereka pun menyadari bekerjsama komitmen Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul ada, tidak ada keraguan padanya, juga tidak ada lagi kemustahilan sesudah dahulu berselisih wacana permasalahan para perjaka itu. Sebagian mengakui hadirnya komitmen Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari Pembalasan. Sebagian lain meniadakannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menimbulkan cerita ash-habul-kahfi selaku pemanis ilmu dan kepercayaan bagi kaum Mukminin dan hujjah (penggugat) bagi orang-orang yang menentang. Jadilah pahala dalam kasus ini untuk mereka.

Selanjutnya, orang-orang yang berkuasa ingin mendirikan bangunan di atas makam mereka. Kata Abul-Faraj Ibnul-Jauzi rahimahullah, kalangan Ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud orang-orang yang memegang kontrol permasalahan para pemuda itu, yaitu raja dan bawahan-bawahannya yang Mukmin.

Mereka ini bermaksud untuk membangun daerah peribadahan di daerah makam para cowok itu. Bangunan tersebut difungsikan untuk beribadah terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya dan mengingat-ingat para cowok tersebut serta peristiwa yang terjadi pada mereka. Kaprikornus, bukan dari kalangan kaum kuffar, mirip diungkapkan sebagian orang. Karena membangun masjid termasuk sifat kaum Mukminin.

Namun perlu diamati bahwa perbuatan tersebut tidak lantas mampu dijadikan landasan untuk melegalkan pembangunan masjid di (sekitar) kuburan, seperti yang terjadi di sebagian negeri kaum Muslimin. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah melarangnya dan mencela para pelakunya.

Pelajaran Dari Kisah Ashabul Kahfi

Orang yang menyelamatkan agamanya dari fitnah, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkannya. Seseorang yang tekun mencari keamanan, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyelamatkannya. Seseorang yang berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti Allah akan melindunginya dan membuatnya sebagai sumber hidayah bagi orang lain. Barang siapa menuai kehinaan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dalam mencari keridhaan-Nya, niscaya kesudahan bagi urusannya ialah kemuliaaan yang agung dari arah yang tidak beliau sangka. Dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang patuh.

Referensi:
Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.
https://almanhaj.or.id/5619-dongeng-ashhbulkahfikisah-para-pemuda-yang-fantastis.html

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *